Minggu, 27 Februari 2022

Isra' Mi'raj, Hikmah & Tafsir ayatnya

 

 

الحمد لله الذي أسري بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى.

و الصلاة والسلام على من شَرَّفَه الله تعالى بوصف العبودية و نَسَبَه إليه ودعاه إلى حضرته العلية فى مراقى التجلي و منازل القرب عند سدرة المنتهى عندها جنة المأوى  ؛فشاهده و ناجاه و حيّاه و لبّاه : "التحيات لله و الطيبات لله" فقال له مجيبا : "السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته, وأهدى لأمتك الصلوات الخمس معراجَ المؤمن إلى الله تعالى وهي نفحاتٌ تفرح بها الأرواح  و معارجَ للأشباح إلى حضرة العلى الفتاح.

و بعد ...     

Keinginan meraup berkah dibulan Rajab, serta agar  mempermudah wadah teman teman yg cukup memiliki kesibukan dan halangan dari mengetahui isra’ mi’raj langsung dari sumbernya, mendorong kami untuk meringkas kisah isra’ mi’raj yg disampaikan guru-guru kami di Azhar serta kami sandingkan dgn kitab kecil yg berjudul "السراج الوهاج فى قصة الإسراء و المعراج" , karya Syeikh Shalih Ja’fari -rahimahullah ta’ala-, agar teman teman dapat mengenal peristiwa isra’ mi’raj dengan sumber yg jelas, guna dan tujuan menambah iman kepada Allah SWT dan cinta kepada baginda nabi Muhammad SAW.

Isra’ Mi’raj

Peristiwa Isra’ Mi’raj yg bertepatan pada malam 27 Rajab menurut Jumhur Ulama ini adalah salah satu mukjizat Baginda Nabi Muhammad SAW, sebagai gambaran kepada umat betapa mulianya kedudukan Baginda Nabi SAW disisi Allah SWT, klasifikasinya sebagai mukjizat ini sudah cukup menjadi penjelas bagi kita agar jangan sampai bertanya: “bagaimana mungkin? bukankah hal itu mustahil?”, karena memang yg namanya mukjizat tidak akan dapat tergambar oleh akal manusia yg terbatas ini, melainkan untuk menjelaskan lemahnya kita sebagai makhluk dan butuhnya kita kepada khalik –jalla wa ala-, serta juga untuk menguji keimanan makhluk terhadap perkara-perkara ghaib yang Maha benar kabarkan kepada kita melalui Rasulnya.

Maka dari itu, tentu dapat kita nisbahkan gelar ahmaq (dungu) terhadap orang-orang kafir jahiliyah, pun masyarakat dewasa ini yang tidak membenarkan peristiwa Isra’ mi’raj, hanya lantaran mustahil menurut akal sehat dan adat, manusia dapat melakukan perjalanan pulang-pergi dalam satu malam saja dari masjidil haram (Mekkah) ke masjidil aqsa (Palestina).

 

Isra’ (perjalanan horizontal di malam hari)

Tatkala baginda nabi SAW berbaring dirumahnya, datanglah malaikat Jibril dan Mikail –alaihamassalam- membawa baginda nabi ke pelataran sumur zam-zam, kemudian terjadi peristiwa syaqqusshadr (Jibril membelah dada baginda nabi SAW) kali ke-3. Adapun hikmah syaqqusshadr adalah agar hati baginda Nabi SAW dibersihkan dari sifat sifat buruk manusia, kemudian diisi dengan hikmah, ilmu, serta iman, guna dan tujuan persiapan kesanggupan baginda nabi SAW untuk melewati isra’ mi’raj ini yaitu bertemu langsung dengan khaliknya Allah –jalla wa ala-, agar tidak sampai hilang kesadaran seperti keadaan nabi Musa as ketika hanya ingin melihat tuhannya, sebagaimana yg telah kita ketahui bahwa nabi Musa as pingsan tatkala ingin melihat khaliknya Allah –jalla wa ala- dibukit tursina (ayat 143 surat al-a’raf), apatah lagi berjumpa langsung dengan Allah –jalla wa ala- yg akan dihadapi baginda nabi SAW.

Setelah peristiwa syaqqusshadr, baginda nabi SAW menunggangi buraq (salah satu hewan surga lebih rendah dari kuda dan tinggi dari keledai dalam suatu riwayat) yg dipandu langsung oleh malaikat Jibril as, berangkat dari masjidil haram (Mekkah) menuju masjidil aqsa (Palestina), yang berdasarkan ijma’ ulama perjalanan ini dengan roh dan jasad beliau SAW dalam keadaan sadar (tidak mimpi), setibanya di masjidil aqsa malaikat Jibril as menjadi muadzin yg mana baginda Nabi SAW mengimami shalat yg dihadiri 124.000 nabi serta 313 rasul  (jumlah ini berdasarkan hadits yg diriwaytakan sahabat abu dzar tatkala ia bertanya jumlah nabi dan rasul kepada baginda nabi SAW), dan diantara mereka hanya 25 nabi saja yg disebutkan dalam al-qur’an, hal ini senada dengan ayat 78 surat ghafir :

  ولقد أرسلنا رسلا من قبلك منهم من قصصنا عليك و منهم من لم نقصص عليك و ما كان لرسول أن يأتي بآية إلا بإذن الله فإذا جاء أمر الله قضي بالحق وخسر هنالك المبطلون

Dan sesungguhnya telah kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yg kami ceritakan kepadamu dan ada pula yg tidak kami ceritakan kepadamu, tidak dapat bagi seorang rasul untuk mendatangkan suatu mu’jizat kecuali dengan izin Allah, maka ketika datang perintah Allah diputuskanlah (semua perkara) dengan adil, dan ketika itu merugilah orang-orang yg berpegang pada kebatilan.

 

Tiga poin penting dari sekilas peristiwa isra’ ini :

1. Shalat adalah wasilah hamba untuk berjumpa dengan ALLAH SWT. sebagaimana baginda nabi shalat terlebih dahulu sebelum mi’raj (berjumpa dgn Allah SWT), bedanya beliau SAW berjumpa dengan ruh dan jasad, sedangkan kita umatnya hanya sebatas ruh.

2. Allah SWT menjaga jasad para nabi. Senada dengan hadits shahih yg diriwayatkan Abu daud bahwa nabi bersabda :” ... perbanyaklah shalawat kepadaku, sungguh aku akan menjawab shalawat kalian, bertanya sahabat : “ bagaimana engkau menjawab shalawat kami karna engkau pasti akan wafat? Nabi menjawab :”Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.”

3. Bolehnya bertabarruk (ngalap berkah) kepada para nabi dan shalihin. Ditengah perjalanan ke masjidil aqsa baginda nabi SAW singgah dipohon yg dulunya nabi Musa as pernah istirahat dibawahnya, tatkala ia keluar dari Mesir menuju Madyan, beliau SAW shalat 2 rakaat disana dan berdoa:” Ya Allah, sesungguhnya aku butuh kepadamu, maka limpahkanlah kepadaku anugerahmu yg tiada terputus (tafsir surat Al-qasas:24). Adapun bertabarruk dengan orang shalih (wali) dijelaskan dalam kisah nabi Zakaria tatkala ia berdoa di mihrab sayyidah Maryam agar Allah SWT berikan ia rezeki anak yg baik (tafsir surat ali-imran:38).

 

 Mi’raj (perjalanan vertikal)

Langit pertama baginda nabi SAW berjumpa dengan nabi Adam as, langit kedua nabi Yahya as dan Isa as, langit ketiga nabi Yusuf as, langit keempat nabi Idris as, langit kelima nabi Harun as, langit keenam nabi Musa as (yg nantinya meminta baginda nabi SAW agar meminta keringanan ibadah shalat kepada Allah SWT), langit ketujuh nabi Ibrahim as.

Kemudian Baginda nabi melihat sidratul muntaha, kemudian melihat surga dan neraka serta apa dan bagaimana keadaan didalamnya, kemudian melihat tempat yg tercatat disana qadha dan qadar makhluk, kemudian nabi sampai ditempat teduh yg dinaungi awan, bagindapun sujud seraya berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT; terbukalah tabir (kasyaf) baginda nabi SAW dan melihat tuhannya Allah –jalla wa ala-, Allah SWT pun mewajibkan baginda nabi SAW dan umatnya ibadah shalat yg awalnya 50 kali dalam sehari menjadi 5 kali sehari setelah bolak balik atas pinta nabi Musa as agar tidak memberatkan bagi umatnya,

-Ala kulli hal-, sekembalinya dari isra’ mi’raj ini tersiarlah kabar ini di khalayak ramai, orang-orang kafir menertawakan baginda nabi SAW dan menuduh bahwa ia hanyalah pendusta, ditengah itu Abu bakar (salah satu pembesar arab mekkah/tokoh masyarakat mekkah saat itu) menjadi orang yg pertama kali membenarkan peristiwa isra’ mi’raj yg telah dilalui oleh baginda nabi SAW, dan beliau juga berkata :” kalaulah dinding yg kulihat dgn dua mata kepalaku ini berwarna hitam tetapi Muhammad mengatakan ia putih, maka sungguh aku akan membenarkannya dan aku akan menyalahkan penglihatanku.”, dari sini digelarlah beliau dengan ash-shiddiq (yg membenarkan), tentunya keyakinan ini muncul karena memang ia mengenal baginda nabi SAW semenjak belia sampai dewasa tidak pernah berdusta karena ia diberi gelar al-amin (orang yg dapat dipercaya).

 

Lima poin penting dari sekilas peristiwa mi’raj ini :

1. Baginda nabi SAW berjumpa dengan Allah SWT "diatas", tidak menunjukkan bahwa Allah SWT berada diatas (bertempat ”makaan”) –subhanah- melainkan menunjukkan kedudukan (“makaanah”), maksudnya sesuai dengan akal manusia yg menilai bahwa “pasti yg lebih tinggi kedudukannya lebih mulia dari yang dibawah” dengan perbandingan bahwa Allah SWT yg berada diatas lebih tinggi dan mulia dari berhala yg mereka sembah dibumi (dibawah).

2. Berada dalam kebenaran tidak menjanjikan bahwa kita akan disukai semua orang, senada dengan hinaan kuffar yg baginda nabi SAW hadapi, sekalipun mereka tahu bahkan merekalah yg memberi gelar al-amin kepada baginda nabi SAW, sayangnya tatkala nabi mendapat wahyu mereka mengingkari segala yg datang dari beliau SAW demi menjaga kedudukan dan kenikmatan yg mereka miliki sebagai pembesar, dan taqlid buta terhadap ajaran nenek moyang.

3. Besarnya pengaruh jabatan (kedudukan) sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, senada dengan prilaku sahabat Abu bakar ash-shiddiq -radhiyallahu anhu- selaku tokoh masyarakat quraisy dan orang terpandang dikalangannya menjadi pembenar terhadap apa yg dihadapi baginda nabi SAW, sekalipun banyak orang bahkan kalangan pembesar sepertinya juga yg mencemooh dan mendustakan baginda nabi SAW tanpa khawatir prilakunya tersebut mendatangkan kebencian dari kalangan  pembesar sepertinya, karena ini beliau justru yg awalnya hanya terpandang dimata masyarakat (gelar tokoh masyarakat) menjadi terpandang dihadapan Allah SWT, rasulnya SAW, dan umatnya (dengan gelar ash-shiddiq). 

4. Cintanya nabi Muhammad SAW kepada umatnya, kita tahu bahwa nikmat terbesar bagi kita hamba Allah adalah dapat melihat zat Allah SWT, sekalipun baginda nabi SAW dalam keadaan baru mendapat sukacita atas dukanya terhadap peristiwa wafatnya istri dan paman tercintanya, justru baginda nabi SAW tidak menetap atau berlama dalam peristiwa mi’raj ini (yg mana hal ini bisa terjadi jika ia SAW sang kekasih Allah SWT meminta) melainkan ia kembali kebumi yg penuh penderitaan, dengan penuh harap agar nikmat melihat Allah SWT juga dirasakan oleh umatnya.

5. Pentingnya ibadah shalat, biasanya Allah SWT menyampaikan perintahnya kepada rasulnya melalui perantara malaikat Jibril as, tidak dengan ibadah satu ini, khusus utk ibadah shalat, ibadah yang pertama kali dihisab dari hambanya di hari kiamat nanti, ibadah yang gerak geriknya (takbir, ruku’ & sujud) menggambarkan penghambaan seorang manusia kepada Allah SWT, ibadah shalat ini langsung diterima oleh baginda nabi SAW dari Allah SWT tanpa perantara.

Tafsir ayat isra’ mi’raj

 {سبحان الذى أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله لنرياه من آياتنا إنه هو السميع البصير}

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya dari masjidil haram ke masjidil aqsa yg telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda tanda kebesaran kami. Sesungguhnya dia adalah maha mendengar dan mengetahui”.

 

(Maha suci Allah) / [سبحان الذى] :

Aku adalah tuhanmu yang maha mulia dan berkuasa, tidak ada makhluk yg dapat berbuat seperti apa yg aku lakukan.

(telah memperjalankan hambanya) / [أسرى بعبده] :

Yaitu baginda nabi Muhammad SAW, disini Allah SWT tidak menyebut beliau rasul-Nya melainkan hamba-Nya, menunjukkan kedudukan hamba lebih agung daripada rasul disisi Allah SWT, juga kemuliaan rasulullah SAW juga tampak dari disini, karena penghambaan beliau SAW langsung diakui oleh Allah SWT dengan menisbahkan kata hamba kepada dhamir (kata ganti) yg kembali kepada Allah SWT langsung.

(pada malam hari dari masjid haram ke aqsa) / [ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى] :

Dalam bahasa arab kalimat أسرى  sudah bermakna perjalanan yg dilakukan dimalam hari, adapun hikmah Allah SWT menyebutkan kata ليلا (malam) disini adalah bentuk penegasan bahwa memang keinginan (iradah) Allah SWT agar peristiwa ini terjadi dimalam hari, sehingga terbentuklah disini ujian keimanan untuk hambanya, apakah mereka akan beriman terhadap hal ghaib dan asing yg datang dari baginda nabi Muhammad SAW melalui izin Allah SWT ataukah tidak ?!,  karena jika perjalanan ini terjadi disiang terang benderang, akan berimanlah banyak diantara mereka karena mereka menyaksikan peristiwa diluar nalar manusia dengan mata kepala mereka, maka dari itu beriman kepada hal ghaib menjadi salah satu sifat orang yg beriman senada al-baqarah ayat 3.

(yg telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan ia sebahagian dari tanda-tanda kebesaran kami) / [الذي باركنا حوله لنريه من أياتنا] :

Menunjukkan bahwa nabi adalah orang yang lebih kuat kedudukannya daripada batasan waktu, tempat dan panca indra, dan paling tinggi imannya diantara hamba Allah SWT, seolah ia al-amin SAW berkata : "berimanlah kalian kepada Allah SWT!, karena sungguh aku telah melihatnya, berimanlah kalian kepada para rasul dan malaikat!, karena sungguh aku telah melihatnya, berimanlah kalian kepada hari pembalasan!, karena sungguh aku telah melihat surga dan neraka". Dan disini dapat kita pahami juga dibalik tingginya kemuliaan nabi SAW,  semua ini bukanlah berasal dari kemampuan baginda nabi SAW, melainkan kemampuan Allah SWT, karena kalaulah memang dengan kemampuan baginda nabi SAW tentulah ungkapannya adalah “agar ia melihat tanda-tanda kebesaran kami” tapi tidak, disini justru “agar KAMI memperlihatkan kepadanya (Muhammad) tanda-tanda kebesaran kami (malaikat,rasul,sidratul muntaha,arasy,dll)".

(Sungguh ia maha mendengar lagi maha mengetahui) / [إنّه هو السميع البصير] :

Ada 2 pendapat ulama mengenai kata ganti (dhamir) khusus diayat ini :

1. kembali kepada Allah SWT, karena memang Ia maha mendengar apapun hingga semut didalam sarangnya dan maha mengetahui segala hal yg tersembunyi sebagaimana mudahnya mengetahui hal-hal yg tampak.

2. kembali kepada nabi Muhammad SAW, karena ia SAW telah mendengar kalam Allah SWT langsung, mengetahui hal-hal dibalik panca indra serta diluar nalar manusia, dan melihat langsung Allah SWT, senada dengan ayat 17-18 surat an-najm : “Penglihatannya tidak berpaling dari apa yg dilihatnya dan tidak melampauinya (17), Sesungguhnya ia sudah melihat sebahagian tanda-tanda kekuasaan tuhannya yg paling besar (18)". Maka dari itu dapat dipahami dengan penutup ayat isra’ ini bahwa baginda nabi Muhammad SAW adalah hamba yg paling kuat pendengaran dan penglihatannya dibandingkan hamba-hamba lainnya.

 

اللهم صلّ و سلّم و بارك على سيّدنا محمد

 و على آله الأطهار و أصحابه الأخيار ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وارحم أبي و أمي كما ربّياني صغيرا يا ربّ.

 

26/Rajab/1443 - 27/Februari/2022

 Darrasah, Cairo, Egypt.

~IbrahimRay.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar